Ketika langit menangis tiada henti, Jakarta pun mengalami kebanjiran. Di bulan yang sama, cuaca dan kondisi banjir tidak lah menjadi cerita yang langka, melainkan menjadi "kebiasaan" di awal tahun. Sampah berserak adalah hal yang biasa. kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih kurang. ketika kelabu, semua mengalami kesulitan.

Hujan tiada henti dalam seminggu ini, hatiku turut andil dalam langit kelabu ini. Aku menangis karena rasa sakit yang terdalam dalam sanubariku. Aku tidak menyalahkan siapapun dalam kondisi hati yang patah. Bahkan aku tidak pernah menyesalinya, hanya saja, aku kecewa dan merasa sedih setengah mati tetapi masih bertahan untuk kuat.

Hancur tak tersisa, berkeping, aku menangis semalam. Merasakan pahit dan getirnya rasa patah yang amat sangat. Kekecewaan pada seseorang yang aku menaruh harapan tinggi padanya. Aku tahu, itu tidaklah benar. Karena seharusnya aku menaruh harapan hanya pada satu orang yaitu Tuhan.

Tetapi sebagai manusia, bila ada orang lain yang mengulurkan kebaikan dan simpatik, akan ada rasa didalamnya. Tetapi jika itu dirusak, maka itu bagaikan kayu rapuh yang hancur tak bersisa lagi. Kekecewaan yang mendalam menjadi bagian dari kehidupan itu tersendiri.

Terciptalah rasa kecewa dan ketika kelabu itu datang. Air mata tak lagi bisa dibendung. Mengalir bagaikan hujan deras dan mengakibatkan banjir yang tak tertahankan.

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda

Jadilah orang pertama yang berkomentar!

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Creative and Health