Wanita kerab sekali dipersoalkan dengan berat badan yang berlebih. Lemak tubuh yang berada dipinggang, pipi, bob, bottom, paha dan beberapa bagian tubuh lainnya.

Hal ini juga dirasakan Anne. Anne yang baru menyadari berat badannya yang tiba-tiba melonjak drastis, dari 42 kilogram menjadi 50 kilogram. Membuatnya merasa tubuhnya tidak lagi nyaman. Apalagi saat melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin.

Layaknya wanita biasa, Anne berusaha untuk menurunkan berat badan. Mulai dari berbagai mitos yang diberitahukan beberapa kawan dekatnya. Ia lakukan, beragam mitos, seperti harus minum banyak air terlebih dahulu sebelum makan, bergadang malam, tidak makan pagi dan beragam informasi lainnya, ia lakoni.

Namun, ia menyadari itu sia-sianya. Memang berat badannya tak lagi bertambah, namun ia berusaha keras menurunkan berat badan. Ternyata, usaha menurunkan berat badan yang telah dilakukannya selama tiga bulan mendapat perhatian dari Betty.

‘’Masih berusaha menurunkan berat badan,’’ Tanya Betty, ketika Anne melintas untuk menyerahkan copy-an article yang telah diketiknya di rumah.

‘’Ya, begitulah. Namanya juga lagi usaha,’’ jawab Anne.

‘’Cara yang kamu udah pakai, sudah benar apa belum?,’’ tanyanya lagi.

Anne diam sesaat, merenung dan menjawab, ‘’Sepertinya sih sudah benar. Saya sudah mencoba berbagai program diet yang ada, baik di buku maupun tidak,’’

‘’Aku punya cerita dan ini memang terjadi, mau mendengarkan tidak,’’ tutur Betty sambil menatap mata Anne lebih dalam.

‘’Boleh, setelah ini ku serahkannya. Siapa tahu ceritanya menarik,’’ ungkap Anne, sambil disertai anggukan Betty.

Disepanjang perjalan menuju kantor editor, Anne kembali direndung pikiran yang memang telah lama berada di dalam benaknya, hanya saja pikiran tersebut selalu ditepisnya dan berusaha untuk mensukseskan ambisinya agar badannya kembali normal. Sehingga koleksi pakaian press body-nya bisa digunakan kembali. Apalagi celana ketat andalannya yang berwarna putih yang biasa dipadupandankan dengan blus hitam ketat dengan manik-manik di bagian leher, plus ikat pingang putih yang dipasang pada bagian blusnya.

‘’Memangnya, apa yang sudah saya lakukan ini benar tidak ya,’’ pikir Anne.

Kenangan program diet mulai dari olahraga yang divosir tenaganya hingga hanya makan gandum agar berat badannya bisa kembali turun. Bahkan ia rela hanya makan buah saja, meskipun perutnya menjerit kelaparan. Ia malah berusaha membawa tidur, walaupun untuk memejamkan matanya butuh tenaga ekstra hingga akhirnya, terpaksa melahap sepotong biscuit agar dirinya dan si perut bisa berdamai, hingga akhirnya membuatnya harus tekapar selama beberapa hari. Dikarenakan terkena maag.


‘’Hi, masih sibuk?,’’ Tanya Anne, ketika kembali melewati meja Betty.

‘’Tidak terlalu, tunggu lima menit ya. Kita bincang-bincang sambil makan siang,’’ ujar Betty, sambil merapikan mejanya yang berantakan.

‘’OK, aku tunggu di ruang tunggu ya. Jangan lama-lama,’’ bisik Anne, saat Anton melintas di depannya.

‘’Ayo, main rahasian ya,’’ teriak Anton pas diteliga Anne, membuat Anne menatapnya marah dan bete. Malah reaksi cowoq culun itu tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Anne yang spontan.

‘’Sorry deh, bercanda, bro,’’ ujar Anton berlalu. Pikirnya, dari pada kena tinju mendingan kabur duluan –hehe--

***

Di sebuah café kecil di dekat kantor tempatnya bekerja sebagai freelance, ia pun duduk bersantai bersama Betty. Di depannya hanya tersaji buah segar dan juice carrot, sedangkan Betty lebih memilih juice avocado dengan steak chicken with black sauce.

‘’Kamu ngak makan siang,’’ Tanya Betty sambil menghapus sisa sauce yang tertinggal dibibirnya.

Anne hanya mengelengkan kepala. ‘’Ngak, lagi program diet,’’

‘’Tapi ini kan jam makan siang. Jangan menyiksa perut mu deh, kasihan tuh dah perlu diisi’’ ungkapnya.

‘’Hari ini aku yang traktir deh, biar enak ceritanya. Bagaimana, kalau kamu ngak mau makan, ngak jadi deh aku cerita,’’ sambung Betty lagi.

Anne mempertimbangkan usulan Betty. Sebenarnya ia berat untuk memesan makanan yang pastinya mengandung lemak dan menyebabkan berat badannya bisa naik. Padahal, sejauh ini ia berhasil menurunkan 2 kilogram berat badan yang membuatnya susah bergerak.

Mau tidak mau, Anne terpaksa memesan makanan. Ia pun memesan makanan yang paling ringan yang tersedia di café tersebut. Anne memilih capcay dan memesan kepada waiter agar hanya merebus sayuran tersebut dengan menggunakan bumbu bawang merah, putih dan garam sedikit.

Saat melahap suapan pertama makannya, memang dirasa ada yang kurang. Kaldu ayam, potonangan ayam, bakso dan beberapa item makanan yang pastinya bisa membuat badannya melar.

Betty pun menceritakan pengalaman yang membuat Anne tercengang dan tak percaya.

***

Disebrang pulau, jauh dari Kepulauan Riau, lebih tepatnya di Kalimantan Timur, di sana hidup seorang gadis, pelajar SMU di salah satu sekolah negeri, sebut saja namanya Diana. Ia memiliki kulit putih, wajah oval, mata belo, hidung mancung, serta rambut yang hitam, lebat dan sehat. Kekurangannya hanya satu, berat badannya yang terus bertambah dari bulan ke bulan.

Sejak duduk dibangku SMU, ia pun mulai menyadari kelebihan berat badannya dan berusaha ektra keras untuk menurunkan berat badannya dari 70 kilo menjadi 45 kilo.

Sayangnya, program diet yang ia terapkan pada dirinya tidak benar. Namun, program itu memang berhasil menurunkan berat badannya, sangat drastis.

Diana menerapkan program dari berbagai buku yang dirangkumnya sendiri tanpa pertimbangan –pastinya— dibenaknya, bagaimana, ia tak lagi menjadi bulan-bulanan teman-teman pria di kelasnya.

Niscaya, program yang memang ia terapkan tidak makan pagi dan malam, sedangkan makan siang hanya beberapa suapan. Itupun hanya sayuran saja yang dimakannya dan itu memang berhasil. Berat badannya berhasil turun dan turun.

Namun, ia tak menyadarinya bahwa perutnya yang selalu merintih kelaparan dan tak pernah diperhatikannya membawanya kedalam bencana besar.

Program yang ia laksanakan diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya itu membuat lambungnya luka. Tiap kali, diisi nasi, perutnya terasa melilit dan sakit, bahkan terkesan ingin meledak.

Sakit itu ia diamkan selama beberapa hari. Namun, akhirnya ia tak tahan. Kebohongan demi kebohongan yang ia katakana pada orangtuanya, akhirnya terbongkar. Keadaannya makin parah, hingga akhirnya orangtuanya mengajak ke dokter dan dokter menyatakan lever akut.

Diana harus merasa puas berada di rumah sakit selam dua bulan untuk mendapatkan bantuan opname, agar tubuhnya bisa menerima asupan gizi. Karena lambungnya telah pecah. Disebabkan tidak pernah diisi. Sehingga dindin-dinding lambung tersebut bergesek dan terluka dan menyebabkan, radang lambung yang parah.

Memang akhirnya berat badannya turun menjadi 40 kilogram, bahkan kurang dari itu, tetapi, ia hanya bisa memakan buah apel. Tidak boleh makanan lain.

Langsing yang menyedihkan bukan??

***
Sepanjang perjalanan pulang, Anne terus berpikir. Berbagai hal, rasa kasihan, simpatik terhadap kisah yang diceritakan Betty padanya. Bagaimana nasib anak tersebut? Apakah Anne juga mau menjadi bagian dari program diet yang ketat.

Tiba-tiba dalam kesendiriannya mengemudikan mobil ek Singapura pemberian kakaknya, ia pun tiba-tiba merasa merinding. Musik classic dari piano Richard tak lagi menarik untuk ia dengar.

‘’Kasihan gadis itu,’’ pikir Anne. ‘’Apakah hal itu akan menimpa ku juga?,’’

Anne menyadari, dirinya terkena maag akibat program diet yang ia paksakan, makan dikit, tenaga ekstra dikeluarkan.

Pekerjaannya yang santai sebagai pemilik salah satu salon kecantikan di Batam, penulis kolomnis di salah satu majalah nasional, serta penulis freelance membuatnya tidak membutuhkan banyak gerak. Untuk mengatisipasi tersebut, ia kerab mengikuti program fitness dan senam yang disediakan di tempat fitness centre and Spa di salah satu hotel berbintang tiga.

‘’Apa yang harus aku lakukan,’’ Tanya Anne lirih pada dirinya. Ia tahu, bahwa ia sendiri tidak bisa menjawabnya. Pasrah pada keadaan, memang bukan tipe Anne. Ia selalu ingin apa yang sudah direncanakannya berhasil….

Kali ini, ia menyadari seratus persen bahwa ia harus mengubah pola hidupnya yang berambisi untuk kembali menurunkan berat badannya, tidak menjadi berlebihan.

Ia menyadari bahwa program diet sehat memang sangat dibutuhkan, memang hasilnya memakan waktu lama, tetapi badan sehat. Percuma bukan memiliki tubuh seksi, langsing, tetapi badan tidak sehat. Semua itu hanya sia-sia belaka.

Anne pun telah bertekad untuk mengubah dan berkonsultasi dengan ahli gizi mengenai asupan gizi yang baik untuk tubuhnya dalam program diet sehat yang sedang direncanakannya, serta disempurnakan dengan olahraga, bukan semata untuk menurunkan berat badan lagi, melainkan untuk kesehatan.

‘’Hidup sehat yuk, mungkin lebih indah dan nyaman dibanding ambisi untuk langsing yang ternyata bisa berakibat fatal,’’ ujarnya sambil tersenyum.

Artikel Terkait:

Silakan pilih sistem komentar anda

Jadilah orang pertama yang berkomentar!

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Creative and Health